TINGKATKAN KUALITAS PUBLIKASI ILMIAH, PRODI ILMU HUKUM SELENGGARAKAN WORKSHOP PARAFRASE
  • Prodi Ilmu Hukum
  • 29. 07. 2020
  • 0
  • 195

Alue Peunayeng – Tantangan besar publikasi ilmiah yang sering dihadapi oleh para peneliti adalah persentase kemiripan karya yang dihasilkan dengan karya sebelumnya. Dalam makna lain para peneliti harus dihadapkan pada kondisi dimana plagiasi menjadi ancaman bagi setiap karya ilmiah yang akan dipublikasikan.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Program Studi Ilmu Hukum, FISIP Universitas Teuku Umar, Nila Trisna, SH., MH., dalam sambutannya pada kegiatan Workshop Strategi dan Teknis Parafrase pada Selasa, 28 Juli 2020.

Kegiatan tersebut berlangsung secara Daring menggunakan aplikasi Zoom Cloud Meeting. Hadir sebagai pemateri workshop, Yuhdi Fahrimal, S.I.Kom., M.I.Kom., dosen Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Teuku Umar. Peserta terdiri atas dosen dan mahasiswa baik yang berasal dari Prodi Ilmu Hukum maupun dari program studi lainnya di lingkup FISIP UTU. Kegiatan dimoderatori oleh Apri Rotin Djuafi, SH., MH.

Nila Trisna menambahkan bahwa kegitaan workshop ini menjadi penting agar kita dapat terhindar dari plagiasi yang konsekuensi hukumnya sangat besar.

“Saya berharap kita dapat menyerap ilmu yang bermanfaat dari kegiatan ini. Plagiasi memiliki konsekuensi hukum yang berat, jadi parafrasa yang sebentar lagi akan disampaikan materinya oleh Pak Yudi tentu menjadi salah satu solusi agar kita terhindar dari plagiasi itu”, tutur Nila.

Yuhdi Fahrimal, S.I.Kom., M.I.Kom., mengawali materi dengan menyampaikan tentang pengertian dan proses penelitian ilmiah. Menurutnya, penelitian ilmiah adalah proses mencari kebenaran atau jawaban atas fenomena menggunakan kaidah-kaidah ilmiah.

“Jadi penelitian ilmiah itu dimulai saat kita mempertanyakan suatu fenomena. Dari pertanyaan itu timbullah masalah. Setelah masalah ditemukan baru kita melirik teori dan metode mana yang tepat untuk menjawab masalah tersebut”, ujar Yuhdi.

Menurut Yuhdi, saat ini seiring perkembangan teknologi para peneliti dihadapkan dengan tantangan untuk menjaga kualitas publikasi ilmiah hasil penelitian agar tidak terkena plagiasi. Salah satu strategi yang bisa diterapkan adalah menggunakan teknik parafrasa.

“Parafrasa ini sebenarnya sudah lazim kita pelajari saat di bangku sekolah dulu. Parafrasa adalah strategi atau teknik mengubah struktur kalimat yang dikutip tanpa menghilangkan makna dari kalimat tersebut”, ungkap dia.

Ada lima langkah yang dapat dilakukan untuk parafrasa, yaitu, pertama membaca detail dan utuh sumber tulisan. Hal ini dilakukan agar dapat menemukan interpretasi atau makna dari tulisan tersebut. Kedua, catat konsep atau poin-poin penting dari tulisan tersebut. Konsep dan poin-poin penting ini nantinya akan menjadi kunci untuk mengembangkan kalimat menjadi paragraf dan paragraf menjadi kalimat.

Ketiga, tulis dan kembangkan kalimat berdasarkan konsep dan poin yang telah diinventarisir tadi. Dalam mengembangkan tulisan, penulis dapat menambahkan gagasannya sendiri untuk memberi warna pada tulisan sehingga berbeda dengan tulisan sumber yang dirujuk.

Ke-empat, bandingkan hasil tulisan dengan sumber asli. Setelah tulisan selesai dikerjakan, sebaiknya penulis membandingkan hasil tulisannya dengan sumber yang dirujuk. Hal ini berguna untuk melihat perbedaan antar-tulisan dan menjaga agar tidak terjadi perubahan makna dari sumber utama.

Kelima, mengutip sumber utama. Biasanya peneliti lupa menempatkan nama penulis yang menjadi sumber rujukan. Meskipun telah dilakukan parafrasa, penting bagi setiap penulis untuk menyertakan sumber kutipan dalam tubuh kalimat dan referensi. Biasanya style pengutipa yang digunakan dalam publikasi ilmiah adalah American Psychology Association atau APA Style. | Official IH

Lainnya :