Prof Jasman Bahas Ekonomi Barat Selatan Aceh di Ngobrol Cak Ham
  • UTU News
  • 29. 07. 2020
  • 0
  • 278

MEULABOHUTU | Rektor Universitas Teuku Umar, Prof. Dr. Jasman J. Ma’ruf, SE., MBA tampil sebagai narasumber utama dalam acara Ngobrol Cak Ham pada Selasa (28/7/2020) pukul 19.30 – 21.00 WIB. Acara yang mengangkat tema “Universitas Teuku Umar & Ekonomi Barat Selatan Aceh (BARSELA)” ini dipandu oleh Hamdani Bantasyam seorang entrepreneur, Founder & Business Owner serta berpengalaman 22 tahun bekerja di perusahaan multinasional. Obrolan ini dilaksanakan via Zoom Cloud Meeting dan disiarkan secara Live di Youtube dan Facebook @Hamdani Bantasyam.

Prof. Jasman mengawali materinya dengan menyampaikan Visi UTU sebagai kampus sumber inspirasi dan referensi dalam bidang agro and Marine Industries melalui riset yang inovatif, kreatif dan berdaya saing tinggi. Sebagai kampus baru yang menjadi tumpuan harapan masyarakat Barat Selatan Aceh, tentu UTU harus memiliki strategi dan upaya untuk berkontribusi nyata meningkatkan perekonomian masyarakat lewat riset dan pengabdian dosen.

BARSELA, menurut Prof Jasman memiliki potensi sumber daya yang mumpuni, baik sumber daya manusia maupun sumberdaya alam berupa luas lahan, komoditi perkebunan dan juga sumberdaya laut. BARSELA menjadi daerah penyumbang sawit terbesar di Aceh, namun hingga hari ini kita belum mampu memangkas jalur ekspor, seharusnya Aceh sudah bisa mengekspor sendiri CPO ke Luar Negeri (India, Bangladesh, dll), namun karena berbagai keterbatasan kita harus melewati Medan, sehingga biaya perjalanan darat membengkak.

Prof Jasman berpandangan dalam usaha pengembangan ekonomi BARSELA diperlukan beberapa langkah, yaitu langkah utama pengembangan SDM. Pengembangan SDM ini seperti pengembangan Iptek dan inovasinya, industrialisasi dan pengembangan jasa. Dalam hal ini, UTU telah mengambil peran pengembangan Iptek dan inovasinya. Sementara langkah penunjangnya adalah penyediaan infrastruktur, transportasi, standarisasi dan telematika.

“Pembangunan ekonomi barsela pada tiga sector yaitu pertanian/kemaritiman (sesuai Visi UTU), Industri dan jasa. Untuk mendukung tujuan pembangunan tersebut diperlukan prasyarat seperti SDM yang kuat, peranan pemerintah dan dukungan perbankan.” Jelas Prof Jasman dihadapan 52 peserta yang terkoneksi di ruang Zoom Meetings.

Prasyarat pengembangan ekonomi BARSELA itu terdapat pada tiga basis yaitu, berbasis pada sumberdaya ekonomi local dengan mempertimbangkan lingkungan setempat; berbasis pada karakter, system nilai dan kapasitas masyarakat; dan berbasis pada peningkatan nilai tambah dan pasar yang berkesinambungan.

Prof Jasman menekankan tiga kunci sukses dalam pengembangan ekonomi, yaitu focus, berkelanjutan dan sinergis. Pengembangan ekonomi diarahkan terpusat (focus) kepada beberapa komoditi dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dari hulu sehingga ke hilir. Sebagai contoh kayu Jabon dan kelapa sawit merupakan komoditi yang memiliki nilai tambah yang lebih unggul, baik dari sisi hulu (pertanian) sehingga di sisi hilir (industry). Yang kedua berkelanjutan yaitu pembangunan dilaksanakan berkesinambungan pada jalan dan arah yang benar yaitu pengembangan ekonomi yang tidak merusak alam; dan ketiga adalah sinergis yaitu adanya keterkaitan antar sector yang saling melengkapi, tidak tumpang tindih melalui pendekatan lintas fungsi.

Di bagian terakhir, Prof Jasman mengusulkan kepada stakeholder di Barat Selatan Aceh untuk membentuk lembaga yang nantinya difokuskan pada pengembangan ekonomi BARSELA dalam berbagai sector. Diantara usulan Prof Jasman adalah Barsela Development Board (BDB), Barsela Investmen and Promotion Agency (BIPA) dan Barsela Corporate Social Responsibilty Agency (BACOSRA). Ketiga lembaga itu akan focus menangani isu-isu pembangunan, investasi dan CSR.

Kemudian, Bang Ham,sapaan akrab Hamdani Bantasyam membuka ruang diskusi dengan pra peserta yang ingin memberikan pertanyaan maupun pandangan peserta terkait tema yang dibahas. Para peserta yang terdiri dari akademisi, pengusaha, mahasiswa dan tokoh masyarakat dari berbagai daerah bahkan ada yang berdomisili di Turki sangat antusias menanggapi acara Obrolan Cak Ham. Berbagai pertanyaan yang diajukan kepada Prof Jasman terutama tentang ekonomi BARSELA dan permasalahan Aceh terkini seperti isu kemiskinan, pengangguran dan sumberdaya manusia.

Salah satu peserta yang merupakan diaspora Aceh, Prof. Dr. Meutia, SE., MP, Guru Besar manajemen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Beliau bertanya sekaligus mengonfirmasi kepada Prof Jasman tentang status Aceh sebagai Provinsi termiskin di Sumatera, sementara diketahui semua bahwa Aceh adalah salah satu daerah terkaya di Indonesia.

Dalam jawabannya, Prof Jasman mengatakan membaca Aceh tidak cukup dengan membaca statistic BPS saja, di atas kertas memang kenyataannya demikian, namun perlahan tapi pasti angka kemiskinan di Aceh terus menurun. Membaca Aceh itu harus secara keseluruhan, ditinjau dari semua factor, dimana Aceh tertinggal disebabkan banyak factor, factor yang paling dominan mempengaruhi terjerembabnya Aceh di lembah kemiskinan adalah konflik berkepanjangan (RI-GAM) dan bencana alam (Gempa dan Tsunami) yang telah meluluhlantakkan semua sendi kehidupan rakyat Aceh mulai hulu hingga hilir. Membangun sebuah daerah yang mengalami dua bencana dahsyat ini perlu strategi dan pendekatan khusus, dan ini tidak dirasakan oleh daerah lain di Indonesia, terutama provinsi-provinsi di Sumatera. Jadi tidak relevan sebenarnya jika Aceh disamakan dengan provinsi lain.

Selain itu komentar dan pandangan turut disampaikan oleh Prof. Dr. Muchlisin ZA, S.Pi., M.Sc (Dekan FPIK Unsyiah); Imam Baihaqi, ST., M.Sc., Ph.D (Dekan Fakultas Design Kreatif & Digital Bisnis, ITS Surabaya); Saifuddin Bantasyam, Ridwan Nyak Baik, Lisma Nazrah, Didi Asmadi, Cut Dina Handayani, Teuku Tandi Rusli, Hafidz Hanafiah, Muhammad Haikal dan beberapa dari Dosen UTU yang menjadi peserta aktif.

Di akhir obrolan, Cak Ham mengapresiasi atas kesediaan Prof Jasman, para dosen UTU dan peserta lainnya atas kesediaan meramaikan progam Obrolan Cak Ham. Menurut Bang Ham, kegiatan ini akan terus dilaksanakan dengan menghadirkan para tokoh yang berkompeten tentang bidangnya yang tentunya relevan dengan persoalan Aceh. Obrolan Cak Ham diharapkan menjadi satu alternative baru mencurahkan gagasan dan mendiskusikannya untuk Aceh yang lebh baik ditengah Pandemi Covid-19 yang mewabah di Indonesia.

Diantara agenda Obrolan Cak Ham yang programnya disiarkan secara Live via Youtube, Facebook dan Instagram (Hamdani Bantasyam) adalah Are you ready for the future? Berkarir di BUMN bersama Joko Pranoto (General Manager Pertamina) Sabtu, 1 Agustus 2020. Berikutnya Selasa, 4 Agustus 2020 obrobal Cak Ham bersama Amir Faisal (Founder & Owner the Atjeh Connection) dengan tema “Dimanakah hebatnya kuliner Aceh?”; selanjutnya agenda yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat, praktisi dan pengamat kelistrikan Aceh yaitu Obrolan tentang “LISTRIK ACEH” bersama Direktur PLN, Wiluyo Kusdwiharto live via Zoom dan Streaming Youtube. Terakhir topik menarik yang akan dibincangkan dalam Obrolan Cak Ham adalah “Parawisata & Kopi Aceh” bersama Fadjar Hutomo, Deputi Menteri Parawisata. (Aduwina Pakeh / Humas UTU).

Komentar :

Lainnya :