Dosen UTU Terapkan Good Manufacturing Practices (GMP) di Pengrajin Tahu Danu Desa Alue Penyareung, A
  • UTU News
  • 15. 09. 2020
  • 0
  • 323

MEULABOH- UTU | Empat orang Dosen Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar (FP UTU) melakukan pengabdian di Desa Alue Penyareng, Aceh Barat. Keempatnya adalah Maya Indra Rasyid, Nanda Triandita, Lia Angraeni dan Hilka Yuliani. Senin (14/9/2020) kepada media UTU.News Maya Indra Rasyid menjelaskan, berdasarkan hasil survey yang telah mereka lakukan, hampir sebagian besar pengrajin tahu yang ada di Aceh belum memenuhi standar Good Manufacturing Practices (GMP) industri makanan.

GMP merupakan standar umum yang memuat persyaratan khusus yang harus dipenuhi oleh industri makanan terkait keamanan pangan dan kualitas produk pangan. GMP merupakan parameter utama dari baik tidaknya proses produksi yang dijalankan pada suatu jenis makanan.

Tahu merupakan salah satu pangan olahan yang sangat digemari di Aceh dan dapat dikonsumsi sebagai lauk pendamping nasi maupun sebagai cemilan. Makanan ini mengandung protein  nabati  sebagai hasil olahan kacang kedelai sehingga sangat baik sebagai sumber gizi masyarakat. Hal ini menyebabkan usaha pengolahan tahu berkembang dengan sangat pesat. Dengan angka permintaan tahu di masyarakat yang cukup tinggi, maka proses pengolahan dengan standar keamanan dan kesehatan yang cukup menjadi hal yang sangat penting untuk diterapkan.

Kendala yang sering didapati pada usaha rumah tangga terkait kealpaan dalam penerapan GMP salah satunya adalah tidak adanya pemisahan antara ruang penyimpanan bahan baku dan produk jadi, sehingga produk makanan yang sudah jadi masih disimpan di ruangan produksi. Penyimpanan ini juga tidak menggunakan wadah tertutup sehingga mikroorganisme penyebab penyakit, debu dan kotoran yang ada di lingkungan sekitar berpotensi untuk mencemari tahu yang diproduksi.  Selain itu, air yang digunakan untuk pencucian, perendaman dan perebusan seringkali tidak berkualitas baik sehingga dapat menimbulkan rasa asam pada tahu yang diproduksi.

Proses pengolahan tahu yang belum menerapkan GMP cenderung mengakibatkan timbulnya kontaminasi dari setiap tahapan produksi, seperti sanitasi peralatan dan ruangan produksi yang tidak dibersihkan secara berkala, penataan ruangan yang tidak rapi, kebiasaan pekerja yang tidak menggunakan pakaian safety lengkap dan kurang menjaga kebersihan tubuh saat proses produksi, serta sistem pengemasan yang kurang baik menyebabkan tahu yang diproduksi seringkali terkontaminasi, baik itu cemaran fisik berupa debu dan kotoran, cemaran biologis berupa kapang dan bakteri penyebab penyakit, maupun cemaran kimia seperti penambahan bahan tertentu yang dilarang oleh pemerintah seperti boraks dan formalin. Aspek lain dari prinsip GMP yang sering menjadi masalah pada industri tahu adalah penanganan limbah produksi yang belum dikelola dengan baik sehingga mencemari lingkungan sekitar lokasi produksi.

Mengingat urgensi penerapan GMP di usaha pengolahan tahu, Dosen Prodi Teknologi Hasil Pertanian Universitas Teuku Umar bersama beberapa orang mahasiswa melakukan pelatihan Good Manufacturing Practices (GMP) usaha rumah tangga pengolahan tahu di Desa Alue Peunyareng, Aceh Barat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mensosialisasikan penerapan GMP di industri pengolahan tahu agar pelaksana industri ini memahami pentingnya prinsip GMP dalam menjalankan proses produksi tahu untuk menghasilkan tahu yang berkualitas, bergizi dan sehat untuk dikonsumsi. Dalam kegiatan ini, praktek GMP yang akan diterapkan yaitu terkait dengan kegiatan produksi tahu dan personal hygiene (kebersihan pekerja) di usaha pengolahan tahu tersebut.

Maya Indra Rasyid, S.TP., M.Si dosen Prodi Teknologi Hasil Pertanian UTU memberi pemaparan mengenai proses pengolahan kedelai menjadi tahu secara umum, termasuk bahan tambahan yang digunakan dalam pengolahan tahu. Sebagai informasi pembanding, Bapak Danu selaku pemilik usaha tahu juga memberi pemaparan mengenai proses pengolahan tahu yang dilakukannya dalam usahanya selama ini. Pertemuan ini juga diisi dengan diskusi mengenai beberapa bahan tambahan pangan (BTP) yang aman untuk ditambahkan dalam pengolahan tahu, serta BTP yang dilarang penggunaannya oleh pemerintah seperti boraks dan formalin.

Dalam diskusi ini, diperoleh informasi bahwa pengelola usaha tahu sama sekali tidak menambahkan bahan pengawet apapun dalam pengolahan produknya. Sehingga tahu yang diproduksinya aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Untuk air yang digunakan dalam pengolahan tahu, usaha tahu Danu menggunakan air sumur yang kualitasnya cukup baik sehingga tidak menimbulkan rasa asam pada tahu yang dihasilkan.

Pelatihan ini juga diisi dengan sesi penerapan personal hygiene bagi para pekerja di usaha pengolahan tahu tersebut. Personal hygiene bertujuan untuk memastikan tingkat hygiene karyawan dapat dijamin dalam setiap tahapan kegiatan produksi, mencakup kebersihan diri dan pakaian yang digunakan.

Dalam kegiatan ini, Nanda Triandita, S.TP., M.Si yang juga merupakan Dosen Prodi THP UTU memberikan pemaparan mengenai perlengkapan personal hygiene yang harus digunakan oleh pekerja saat melakukan kegiatan produksi serta manfaat dari masing-masing item pakaian safety tersebut. Perlengkapan ini meliputi pakaian yang bersih, apron tahan air, sarung tangan karet, sepatu boots, penutup kepala/hair net dan masker mulut. Semua perlengkapan ini wajib digunakan selama kegiatan produksi untuk meminimalisir terjadinya pencemaran pada produk tahu yang dihasilkan. Pada sesi ini, mahasiswa dan pekerja di usaha pengolahan tahu juga sekaligus memperagakan bagaimana caranya menggunakan pakaian safety ketika akan melakukan pengolahan tahu agar dapat dipahami oleh seluruh peserta pelatihan.

Berdasarkan pantauan yang dilakukan oleh pelaksana pengabdian ini, usaha tahu Danu belum sepenuhnya menerapkan personal hygiene selama proses produksi. Pekerja hanya menggunaka plastik sebagai celemek anti air dan sepatu pekerja saat melakukan pengolahan.

Namun demikian, masih ada kekurangan lainnya yaitu tidak digunakannya masker mulut dan penutup kepala saat pengolahan sehingga masih berpotensi untuk menimbulkan cemaran pada produk tahu. Di samping itu, penerapan sanitasi pada peralatan produksi juga harus menjadi titik berat dalam penerapan GMP pada usaha ini. Jika prinsip GMP telah secara konsisten dilakukan dari hulu ke hilir, maka akan dihasilkan produk tahu yang lebih terjamin kualitas dan kebersihannya sehingga akan semakin aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat. (Aduwina Pakeh/ Humas UTU).

Komentar :

Lainnya :